Jumat, 14 Juni 2013

Sebuah Kesalahan

Namaku Reni, usia 27 tahun, kulit kuning langsat dan rambut sebahu dengan tinggi 165 cm berat 51 kg, dan telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Aku bekerja pada sebuah Bank Pemerintah yang cukup terkenal. Sedang suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang ia memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami pun menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih 3 tahun. Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Diantaranya ketidak setujuan orangtuaku dan orangtua suamiku, juga sebelumnya aku telah di jodohkan oleh orangtuaku dengan seorang pengusaha, namun kami dapat melaluinya dengan keyakinan hingga kami bersatu. Lalu kami memutuskan menikah dan kamipun sepakat untuk menunda dulu punya anak karena aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk takut nanti tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki 2 unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan sex tiada masalah diantara kami. Ranjang kamipun cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat aku atur. Akupun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan sex kami lancar.

Atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah ke pulauan. Aku tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku, sebab bagiku naik atau tidak statusku sama saja, yang penting bagiku adalah keluarga dan perkawinanku.

Suamikupun tanpa aku duga sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini, sebab inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa biasa saja selama ini. Aku bahagia sekali rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Namun orang tuaku kurang suka begitu juga mertuaku, namun mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik dan mereka mendorongku agar maju dan tegar. Suamikupun minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang, agar dapat berkumpul, akupun setuju dan berterima kasih padanya.

Kemudian aku mulai pindah ke pulau yang dari Padang ditempuh dengan naik kapal motor selama 5 jam itupun jika cuaca bagus. Suamiku turut serta mengantar aku dan ia sediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu. Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya terkecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana. Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Di pulau ini suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri karena memang belum lengkap prasarananya dan rumah dinas yang lain masih banyak yang kosong. Selama di pulau itupun suamiku tidak lupa memberiku nafkah bathin karena nantinya kami akan bertemu seminggu sekali. Akupun menyadarinya dan kamipun mereguk kenikmatan badaniah selama suamiku di pulau ini.

Suamikupun dalam tempo yang singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek, hingga tanpa kusadari suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor, rupanya ia dapat meminjamnya dari tukang ojek itu. Salah satu tukang ojek yang di kenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini adalah laki-laki berusia 65 tahun dan ia tinggal sendirian di pulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta. Maka laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek.

Pak Sitorus biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal ia cukup baik. Menurut suamiku yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Sitor dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan namun karena suatu sebab ia ingin merubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor hingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir minggu aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Rumah dinaskupun aku titipkan pada Pak Sitor karena suamiku bilang ia dapat di percaya. Akupun mengikuti kata kata suamiku. Kadang kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Dan sering kali iapun memakai sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Sitor adalah bagian dari sahabatnya karena sesekali setiap ia ke pulau Pak Sitor diajak makan ke rumah dan Pak Sitorpun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu. Suamikupun sering memberinya uang lebih karena Pak Sitor akan menjaga ku dan rumahku jika aku tinggal. Mulai sejak saat itu akupun rutin di antar jemput Pak Sitor jika kekantor, tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Akupun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih, kadang akupun sering membawakannya oleh-oleh jika aku pulang ke Padang.

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan di sekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan beasiswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku menerimanya, aku pikir demi masa depan kami juga dan kebahagian kami nanti tidak masalah bagiku. Suamiku sebelum berangkat sempat berpesan agar aku jangan segan minta tolong kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor untuk menjagaku. Suamikupun titip uang yang harus aku serahkan pada Pak Sitor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-telponan dan kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telpon, itu sering kami lakukan maklum untuk memenuhi libido kami berdua, hingga tagihan telpon meningkat. Aku tidak memperdulikannya selagi dengan suamiku sendiri dan aku menghayalkan suamiku ada dekatku tidak masalah dan kami berjauhan. Akupun mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada dan paling aku pulang sekali sebulan itupun aku kerumah orang tuaku. Rumahkupun aku titip dengan saudaraku.

Akupun melewatkan hari-hariku dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor rutin mengantar jemputku. Sesekali saat aku pulang Pak Sitor mengajakku jalan-jalan keliling pantai. Aku tolak dengan halus sebab aku merasa tidak enak apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya dan saat itupun aku sedang tidak mood dan aku lebih tenang dirumah saja.

Dirumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor. Aku merasakan juga bahwa Pak Sitor akhir-akhir ini amat memperhatikanku, tidak jarang ia sore datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa sebab di pulau itu ia amat di segani dan berpengaruh. Aku sadari juga kadang dalam berboncengan tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor saat ia menghindari lubang dan saat ia mengerem. Bagiku itu biasa saja maklum dan resiko aku berboncengan dengan sepeda motor dan itu sering terjadi, sesekali aku juga merangkul pinggangnya karena aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Sitorpun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Bagiku ini biasa saja sebab di pulau ini mana ada angkuta dan kalau di Padang aku kekantor terbiasa menyetir sendiri, jadi aku harus bisa menganggapnya biasa dan harus aku jalani.

Pada suatu senja saat hari kerja habis yaitu Jumat sore Pak Sitor datang kerumahku, seperti biasanya ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Lalu ia aku silahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Pak Sitor mengajakku jalan kepantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai dan kesal dengan kesibukan suamiku saat ku telpon tadi, ia tidak bisa terlalu lama di telpon. Lalu Pak Sitor mengajakku untuk main catur, kebetulan selama ini ia sering main catur dengan suamiku. Akupun setuju karena aku lagi suntuk dan untuk menghilangkan kekecewaanku saat ini.

Aku main catur dengan laki-laki itu beberapa kali ia kalah dan aku yang menang, taruhannya adalah sebuah botol yang di ikat tali lalu dikalungkan ke leher. Seumur hidupku baru kali ini aku yang mau bicara bebas dengan laki-laki selain suamiku dan atasanku. Tidak semua orang dapat bebas berbicara denganku, dan akupun termasuk type orang yang memilih dalam mencari lawan bicara, maka tidak heran jika aku di cap sombong oleh sebagian orang yang kurang aku kenal. Namun dengan Pak Sitor aku bicara apa adanya. Dan ceplas ceplos, mungkin kami telah saling mengenal dan juga aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa kami main catur telah lama hingga jam menunjukan pukul 10 malam. Diluaran tanpa aku sadari telah hujan deras diiringi petir yang bersahut2an. Setelah itu kami mengakhiri main catur, aku lalu membersihkan mukaku kebelakang, Pak Sitor juga. Lalu aku tawari Pak Sitor untuk ngopi biar nggak bosan kataku. Di pulau saat itu penduduknya telah pada tidur dan yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Pak Sitor minta izin pulang karena hari telah larut setelah menghabiskan kopinya. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang karena rumahnya cukup jauh dan lagi pula aku kuatir jika nanti sempat terkena petir. Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja dan tampaknya ia bisa menerimanya. Dan akupun memberinya sebuah bantal dan selimut maklum cuaca dingin saat itu.

Secara tiba-tiba lampu mati, aku sempat kaget, untunglah ia punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan dan satu untuk kamarku dan yang satu untuk ruang tamu tempat Pak Sitor tidur. Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku lalu tidur dikamar sementara diluaran hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam. Aku berusaha untuk tidur namun tidak bisa, ada rasa kekuatiran yang tidak aku ketahui sebab petir berbunyi begitu kerasnya. Hingga akhirnya aku putuskan ke ruang tamu saja hitung-hitung memancing kantuk dengan bincang-bincang dengan Pak Sitor. Malam itu aku tidak terlalu khawatir sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sampai aku di ruang tamu aku lihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya belum tidur, ia kaget dan disangka aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang mataku nggak mau tidur, ia cuman senyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku. Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku dan aku tanpa sengaja bilang kekesalanku saat itu, mestinya aku tidak boleh bilang pada siapapun suasana hatiku saat itu, namun meluncur begitu saja. Dengan cara bijaksana dan kebapakan ia nasehati aku yang belum merasakan asam garam perkawinan.

Dalam suasana temaram cahaya lampu saat itu aku tidak menyadari kapan Pak Sitor pindah duduk kesampingku. Aku kurang tahu kenapa aku membiarkannya meraih jemariku yang masih melingkar cincin berlian perkawinanku dan merebahkan kepalaku didadanya. Aku merasa terlindung dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini. Dalam pada itu Pak Sitorpun membelai rambutku seolah aku adalah istrinya, lalu terus kebalik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya terus berbuat itu, lalu ia cium telingaku dan terus bergeser ke bibirku. Aku tak menyadari bahwa itu orang lain. Aku salah langkah, dan menilai orang. Pak Sitorpun mengulum bibirku beberapa saat dan tangannya juga tidak tinggal diam dengan terus merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan kaos tidur itu.

Padahal yang pantas berbuat itu adalah suamiku tercinta namun aku telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairah yang menuntut pelampiasan. Aku lalu dibimbingnya kekamar dan merebahkanku di ranjang yang biasa aku gunakan untuk bercinta dengan suamiku, namun kini yang berada di sini, disampingku bukanlah suamiku tapi serang laki-laki tukang ojek yang notabene tidak pantas untukku yang sepantaran ayahku. Aku terlarut dalam gairah yang menghentak. Pak Sitor menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar tadi telah ia matikan. Aku diam menanti apa yang akan di perbuatnya padaku.

Padahal selama ini aku tidak sekalipun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan mencolekku. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai yang selalu diajarkan orangtua dan agamaku. Tapi semua musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya dan Pak Sitorpun berusaha melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar kebawah lantai. Aku hanya memejamkan mataku, akupun semakin buta oleh nafsuku yang mulai naik. Selesai menelanjangi aku, lalu iapun melepaskan pakaiannya hingga lapis terakhir. Aku memperhatikan tubuhnya yang hitam meskipun sudah tua namun ototnya masih ada dan ada gambar tatto tengkorak di lengannya. Aku tau dia adalah laki-laki yang biasa keras dan jarang ada kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabaiku dan menelanjangiku.

Iapun mulai memelukku dan menciumiku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Rabaan tangannya yang kasar membuatku kesakitan, suamiku dalam merabanya cukup hati-hati, namun Pak Sitor watak kasarnya terlihat. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita maka akulah yang menjadi sarana pelampiasan nafsunya. Aku tak kuasa atas tindakannya. Air mataku menetes karena ada penyesalan dan aku telah menodai perkawinanku, namun percuma Pak Sitor asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku di jamahnya tanpa terlewatkan seincipun. Tubuhkupun berkeringat tidak tahan dan geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku dan ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilat klitorisku. Kepalaku miring kekiri kanan menahan gejolak yang melandaku. Pegangannku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakikupun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku. Beberapa menit kemudian aku orgasme dan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Matakupun terpejam, lalu aku kembali di bangkitkan lagi Pak Sitor dengan meciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukan dan mulai mengacak acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya, tampaknya Pak Sitor telah lama merencanakan ini dan juga mungkin telah lama ia berobsesi untuk meniduriku. Berarti ia telah melanggar amanat suamiku.

Akupun akhirnya orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Sitor, Badanku telah basah oleh keringat kami berdua. Aku lemas dan Pak Sitor minta izin padaku untuk memasukan penisnya ke lubang kehormatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu konsekwensinya, liang kehormatanku akan cemar oleh cairan laki-laki lain dan aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi. Iapun mau menerima pendapatku dan aku lihat ada rasa kecewa dimatanya yang telah terobsesi menyenggamaiku. Aku liat penisnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar. Pak Sitor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya.

Aku kembali menggeleng karena aku dan suamiku selama ini tidak pernah melakukan oral sex baik suami kepadaku juga sebaliknya, meskipun aku slalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Pak Sitor mohon sebab ia merasa tersiksa sebab ia belum klimaks. Aku kasihan juga tidak adil rasanya aku yang telah dibantunya sampai 2 kali orgasme membiarkannya seperti itu. Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. Dengan sedikit jijik aku buka mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja. Mulutku serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor. Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih dan seperti kebiasaan laki-laki batak ini penisnya tidak ia sunat hingga membuatnya agak kotor serta makanan yang tidak beraturan barangkali. Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku. Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama koq tidak juga klimaks, aku salut akan staminanya dan sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak, padahal aku saat ini bisa saja ia paksa namun tidak ia lakukan.

Aku merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu, dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Namun karena terlanjur basah dan tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku sebab seorang laki-laki yang telah berbirahi di ubun ubun sering bertindak nekad dan lagi pula aku sendirian di pulau ini. Akhirnya dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua maka aku izinkan dia melakukan penetrasi di dalam rahimku. Pak Sitorpun tampaknya merasa gembira sebab tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali. Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama sama berkeringat dan rambutku telah kusut.

Dari temaran lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas di atas tubuhku. Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat mungkin karena ia masih menahan untuk ejakulasi. Diluaran saat ini hujanpun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu kami berdua. Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya, ia tau jika tergesa gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan. Akupun berusaha memperlebar kedua pahaku hingga mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor, sebab aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap siap agar aku jangan kesakitan.

Akupun sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat. Dengan bertahap ia mulai memasukan penisnya, aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami. Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga bahunya, lalu langsung penisnya masuk kerahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan nyilu di bibir rahimku, aku meracau kesakitan lalu Pak Sitor membungkam mulutku dengan mulutnya. Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk kerahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim saat kegadisanku aku serahkan pada malam penganten dulu. Dan tidak lama kemudian aku merasakan kenikmatan. Mulut Pak Sitorpun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Kekuatan laki-laki ini amat membuatku salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal yang terserang badai.

Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Sitor gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat, aku merasakan di dalam rahimku basah oleh cairan hangat. Tubuhnya lalu rebah di atas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Akupun dari tadi pun telah sempat kembali orgasme, kamipun tertidur sementara di luar hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yang kusut di sana sini. Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun aku merasa telah berdosa kepada suamiku.

Hingga tengah malam Pak Sitorpun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain. Akupun tidak merasa jijik jika melakukan oral sex dengan Pak Sitor. Bagi wanita sangat sulit untuk melepaskan diri dari kejadian ini. Penyesalanpun tiada gunanya. Bagiku yang tampak diluarnya keras dan berwibawa juga penuh kesombongan, namun semuanya tiada arti lagi jika laki-laki telah berhasil menggaulinya. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjungpun luntur sudah, namun aku bisa bilang pada siapa dan Pak Sitorpun kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukanku hingga aku tidak berdaya. Dan aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya.

Dari awal kesalahan yang kubuat ini aku merasakan telah terperdaya oleh gelombang gairah yang di pancarkan oleh Pak Sitor. Sangat aneh bagiku jika Pak Sitor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku orgasme berkali kali tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja begitu juga aku. Aku akui aku mendapatkan pengalaman baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya. Selama kami berhubungan badan aku sempat bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu, dan Pak Sitorpun bercerita bahwa ia sering mengosumsi makanan khas Batak yang menurutnya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria. Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya, aku jadi ingat pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis.

Selama aku bertugas di pulau itu hampir 1 tahun kami telah sering melakukan hubungan sex dengan sangat rapi. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, dan untunglah perbuatan kami ini aku tidak hamil sebab sebelumnya aku telah ber KB dan Pak Sitor pun bebas menumpahkan spermanya di rahimku. Kapanpun, kamipun sering melakukannya di rumahku kadang di rumah Pak Sitor yang kalau aku pikir alangkah bodohnya aku mau digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Namun bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Sitorpun bisa memberinya. Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor minta kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu.

Permintaan Pak Sitor ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat perkawinan dengan suamiku dan akupun tidak ingin menghancurkannya, lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku apa jadinya jika ayahku tahu, dan keyakinan kamipun berbeda karena Pak Sitor seorang protestan meskipun ia mau pindah ke agamaku asal aku mau kawin dengannya.

Bagiku ini masalah baru, rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku. Pak Sitorpun pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadani aku spermanya slalu ia tumpahkan di dalam. Aku tidak memberitahu dia jika aku berKB. Dan diapun sebenarnya mengiinginkan agar aku hamil agar memuluskan langkahnya memilikiku. Akupun menyiasatinya agar ia tidak lagi bermimpi untuk mengawiniku. Namun bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Akupun menjelaskannya kepada Pak Sitor dengan baik-baik saat kami usai berhubungan badan. Ia akhirnya mengerti dan mau menerima alasanku dan akupun bilang jika kelak aku pindah hubungan ini harus putus dan selama aku dinas di pulau ini ia aku beri kebebasan untuk memilikiku saat suamiku tidak ada dan jangan berbuat macam macam didepan teman kantorku yang kebetulan semuanya penduduk asli pulau itu.

Akhirnya ia mau mengerti dan berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah dan iapun menerima persyaratanku selama aku ditugaskan di pulau ini. Selama aku tugas di pulau itu, Pak Sitorpun terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal batas antara kami. Bagiku cinta hanya untuk suamiku, Pak Sitor adalah terminal persinggahan yang harus aku singgahi. Dan dalam hatiku aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini. Ada penyesalan dalam diriku karena aku mengganggap diriku kotor dan merusak keutuhan perkawinan kami.


EmoticonEmoticon